Audrey adalah nama panggilanku, aku dilahirkan di Kota yang terkenal dengan julukan "Ambon Manise". Nama lengkapku adalah Audrey Hannah Arthauli Simarmata, dari nama belakangku teman-teman sudah bisa menerka bahwa aku berdarah Batak. Ayahku adalah seorang Pegawai Negeri Sipil di salah satu Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) di Provinsi Maluku, tepatnya di Dinas Koperasi Usaha Mikro Kecil dan Menengah, sedangkan ibu yang melahirkan ku adalah seorang ibu yang cantik, penyayang dan baik hati. Mama ku bekerja di salah satu Bank Swasta terkemuka di Indonesia. Mama dan Papa menikah pada tanggal 04 Juni 2011 di Jakarta, 11 bulan kemudian setelah mereka menikah, tepatnya pada tanggal 10 Mei 2012 aku dilahirkan melalui persalinan seksio sesarea di RSUD Dr. Haulussy Ambon. Menurut cerita papa dan mama, proses kelahiran ku cukup menegangkan, aku dilahirkan 5 hari lebih cepat sebelum tanggal yang sudah ditentukan oleh dokter sebelumnya, menurut mama, sehari sebelum mama bersalin, mama memeriksakan kandungannya ke dokter spesialis kandungan, dan ternyata setelah dokter memeriksa, mama dirujuk dokter untuk segera ke rumah sakit karena tekanan darah mama cukup tinggi dan kaki mama bengkak sekali. Dokter menyarankan agar aku segera dilahirkan, karena tekanan darah yang tinggi akan membahayakan diriku dan keselamatan mama juga. Mendengar hal itu mama menangis ketakutan, namun Papa yang selalu menemani mama setiap memeriksakan kandungannya mampu meyakinkan mama untuk tidak takut, dan akhirnya tepat jam 22.00 WIT setelah mama, papa, dan 2 orang pendeta serta Oppung (baca : kakek) berdoa, akhirnya mama dan papa berangkat ke Rumah Sakit. Sayangnya malam itu mama tidak mendapat kamar, karena semua ruangan di bagian bersalin penuh. Lagi-lagi mama bingung dan takut, untungnya papa dan seorang saudara angkatnya yaitu oom Tony Danolf Luhukay, S.STP memberi penguatan kepada mama untuk terus berdoa dan berserah kepada Tuhan walaupun malam itu mama hanya tidur di gudang kosong yang tepat berada dibelakang ruangan tindakan bersalin, teman-teman bisa membayangkan bagaimana perasaan mama pada saat itu, tertekan sekali karena mendengar dengan jelas teriakan dan jeritan kesakitan ibu-ibu yang sedang menjalani proses persalinan normal dari malam hingga pagi hari serta kondisi ruangan yang cukup memprihatinkan. Paginya dokter kandungan pun datang dan memeriksa mama, ternyata tekanan darah mama semakin naik, dokter pun memberikan pilihan kepada mama untuk melahirkan secara normal dengan diberikan obat rangsangan atau melahirkan secara sectio. Setelah mama dan papa berunding sesaat akhirnya mama memutuskan untuk segera dilakukan persalinan sectio sesarea. Jam di rumah sakit pada saat itu menunjukan pukul 08.20 WIT, suster segera menjemput mama untuk dibawa ke ruangan bedah sentral, dan sebelum mama dibawa oleh suster, mama, papa, dan oppung pdt. Tambunan yang datang menjenguk mengajak mereka berdoa. Menurut cerita pada hari itu ada 8 orang pasien yang akan melahirkan secara seksio, cukup banyak memang. Teman-teman kantor papa satu persatu pun berdatangan hendak melihat kelahiranku, menurut papa hari itu ada sekitar 25 orang yang datang, namun yang menemani papa di luar ruangan operasi hingga aku dilahirkan hanya sekitar 10 orang. Puji Tuhan akhirnya tepat jam 12.05 WIT atau sekitar empat jam setelah mama masuk ruangan operasi suara tangisan ku pun memecah suasana ketegangan di luar ruangan operasi, sesaat kemudian suster membawa aku keluar dan aku melihat wajah papa serta teman-temannya yang pada saat itu berebutan hendak memfoto aku. 3 hari lamanya mama di ruang pemulihan dan selama itu juga aku dijaga oleh papa, oppung pdt. Tambunan dan 2 orang teman kerja papa yaitu tante Peggy Maghjn dan tante Sandra Riupassa secara bergiliran. hari ke-4 pasca aku dilahirkan dokterpun sudah memperbolehkan mama masuk ruangan menemani ku dan memberikan ASI nya kepadaku. Sedih yang tak berkesudahan pun semakin dirasakan mama karena pada saat mama masuk ke ruangan, mama melihat ruangan tempat aku menunggu mama selama 3 hari ini tidak nyaman sekali, karena selain ruangannya sempit, temboknya kotor dan atapnya bocor, namun kesedihan itu terobati setelah mama memeluk ku, dan atas doa mama, sorenya kami mendapatkan ruangan baru, mama dan aku dipindahkan ke ruangan yang lebih baik yaitu ruangan kelas 1-B. Pada hari terakhir sebelum kami pulang ada kejutan untuk ku, Oppung boru (baca: nenek perempuan) dari Cilegon dan tante olivia datang menjenguk ku. Terima kasih Tuhan Yesus....Terima kasih ibu dan bapak Pendeta...., terima kasih papa dan mama....., terima kasih dokter dan suster. Jangan lupa yah....teman-teman dukung aku dalam event "Bayi Fluffy Super Model 2012" cukup dengan memberikan 8 Jempol / Like / Star pada PHOTO RATING di